- Momentum Tahun Baru Islam 1448 H, Ketua MPC Pemuda Pancasila Palangka Raya Ajak Masyarakat Perkuat S
- Tahun Baru Islam 1448 H, Ketua NasDem Barito Utara Hj. Nety Herawati Ajak Warga Berhijrah Menuju Keb
- Dinas PUPR Kalteng Kebut Perbaikan Jalan Palangka Raya–Kuala Kurun Demi Kenyamanan Warga
- Gubernur Agustiar Sabran Lepas Kontingen Pesparawi Kalteng ke Ajang Nasional di Manokwari
- Wagub Kalteng Buka Musda VIII AMPI, Dorong Pemuda Jadi Motor Perubahan dan Pembangunan Daerah
- Wabup Kapuas Pantau Harga Sembako di Pasar Blok R, Daya Beli Masyarakat Dinilai Masih Stabil
- Ketua TP PKK Kapuas Ikuti Edukasi Literasi Keuangan Nasional Bersama OJK
- Tim Pendukung Prof Uras Tantulo Pertanyakan Hasil Verifikasi Bakal Calon Rektor UPR, Siapkan Langkah
- Suriansyah Halim, S.H.,M.H. : Pahami Aturan Main Penyegelan Objek Sengketa Agar Tak Berujung Pidana
- Ramaikan Sapma PP Kalteng Domino Cup, Walikota dan Ketua DPRD Ikut Main Bareng Pemuda
Adopsi Mekanisme Plea Bargaining dalam Formulasi Hukum Acara Pidana Indonesia

Keterangan Gambar : Oleh: Irwansyah Kurniawan, Mahasiswa Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya (FH UPR)
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Wacana pengadopsian mekanisme plea bargaining atau jalur khusus dalam sistem peradilan pidana Indonesia dinilai sebagai respons pragmatis terhadap problematika overcapacity lembaga pemasyarakatan serta berlarut-larutnya proses peradilan. Secara teoretis, konsep ini berakar pada asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, di mana memungkinkan adanya negosiasi antara penuntut umum dan terdakwa. Dalam praktiknya, terdakwa mengaku bersalah dengan imbalan tuntutan yang lebih ringan atau kualifikasi tindak pidana yang lebih rendah sebagai bentuk efisiensi yudisial tanpa mengabaikan aspek keadilan.
Baca Lainnya :
- Marwah Hukum Pidana Klasik: Menjaga Pilar Legalitas di Tengah Arus Perubahan0
- Evolusi Hukum Pidana Modern: Integrasi Keadilan Rehabilitatif dalam Sistem Hukum Nasional0
- Supremasi Hukum: Tinjauan Normatif terhadap Dinamika Hukum Pidana di Indonesia. 0
- Wujudkan Transparansi, Wakil Bupati Barito Utara Serahkan LKPD 2025 ke BPK RI Kalteng0
- Hadapi Ancaman Karhutla, Pemkab Barito Utara Perkuat Sinergi dengan Aparat0
Namun demikian, implementasi konsep ini dalam sistem hukum Indonesia memerlukan kehati-hatian yang tinggi, khususnya dalam menjaga keselarasan dengan asas kebenaran materiil yang menjadi ruh hukum pidana nasional. Penulis berpendapat bahwa plea bargaining tidak dapat diadopsi secara mentah dari sistem common law, seperti yang diterapkan di Amerika Serikat, karena berpotensi mencederai hak-hak terdakwa apabila terjadi ketimpangan posisi tawar dengan jaksa, terutama tanpa pendampingan penasihat hukum yang memadai. Oleh karena itu, mekanisme ini harus dikonstruksikan sebagai jalur khusus yang terbatas pada tindak pidana tertentu serta berada di bawah pengawasan ketat hakim melalui mekanisme judicial scrutiny.
Lebih lanjut, integrasi plea bargaining dalam pembaruan KUHAP ke depan perlu ditempatkan dalam kerangka teori keseimbangan konstitusional. Artinya, efisiensi birokrasi peradilan tidak boleh mengorbankan perlindungan hak asasi manusia. Penulis memandang bahwa mekanisme ini juga dapat menjadi jembatan bagi penerapan keadilan restoratif pada tahap penuntutan, di mana pengakuan bersalah dari terdakwa diikuti dengan komitmen pemulihan terhadap korban, sehingga hukum acara pidana tidak hanya berorientasi pada formalitas, tetapi juga pada pemulihan sosial.
Dalam perkembangannya, penerapan plea bargaining secara normatif berpotensi memperkuat peran jaksa sebagai dominus litis atau pengendali perkara. Jaksa tidak hanya berfungsi sebagai penuntut, tetapi juga memiliki diskresi hukum yang harus dijalankan secara akuntabel. Penulis menilai bahwa hal ini membutuhkan standar operasional yang ketat di internal kejaksaan untuk mencegah praktik transaksional yang menyimpang, serta menjamin transparansi dalam proses negosiasi antara penuntut umum, terdakwa, dan korban.
Di sisi lain, mitigasi terhadap potensi pelanggaran hak terdakwa tetap menjadi prioritas utama dalam perumusan norma ini. Hakim harus diberikan kewenangan penuh untuk menolak kesepakatan plea bargaining apabila ditemukan adanya indikasi paksaan, intimidasi, atau kekeliruan fakta dalam pengakuan bersalah. Mekanisme ini diharapkan menjadi bagian dari sistem check and balances dalam peradilan pidana, sehingga efisiensi yang dicapai tidak mengorbankan integritas hukum. Pada akhirnya, plea bargaining harus ditempatkan sebagai instrumen yang memanusiakan hukum, dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban dan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.
ZR
Berita Utama
-
Tim Pendukung Prof Uras Tantulo Pertanyakan Hasil Verifikasi Bakal Calon Rektor UPR, Siapkan Langkah
Tim Pendukung Prof Uras Tantulo Pertanyakan Hasil Verifikasi Bakal Calon Rektor UPR, Siapkan Langkah
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM - Tim Pendukung Prof. Dr. Ir. Uras Tantulo, M.Sc. menggelar konferensi pers terkait proses verifikasi bakal calon Rektor Universitas . . .
-
Ketua TP PKK Kapuas Ikuti Edukasi Literasi Keuangan Nasional Bersama OJK
Ketua TP PKK Kapuas Ikuti Edukasi Literasi Keuangan Nasional Bersama OJK
KUALA KAPUAS, POTRETKALTENG.COM – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kapuas, Hj. Siti Saniah Wiyatno, mengikuti kegiatan edukasi literasi keuangan nasional yang . . .
-
Wabup Kapuas Pantau Harga Sembako di Pasar Blok R, Daya Beli Masyarakat Dinilai Masih Stabil
Wabup Kapuas Pantau Harga Sembako di Pasar Blok R, Daya Beli Masyarakat Dinilai Masih Stabil
KUALA KAPUAS, POTRETKALTENG.COM– Wakil Bupati Kapuas melakukan pemantauan langsung harga kebutuhan pokok di Pasar Blok R Kuala Kapuas guna memastikan ketersediaan dan . . .
-
Dinas PUPR Kalteng Kebut Perbaikan Jalan Palangka Raya–Kuala Kurun Demi Kenyamanan Warga
Dinas PUPR Kalteng Kebut Perbaikan Jalan Palangka Raya–Kuala Kurun Demi Kenyamanan Warga
PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus memacu proyek perbaikan ruas jalan penghubung . . .
-
Wagub Kalteng Buka Musda VIII AMPI, Dorong Pemuda Jadi Motor Perubahan dan Pembangunan Daerah
Wagub Kalteng Buka Musda VIII AMPI, Dorong Pemuda Jadi Motor Perubahan dan Pembangunan Daerah
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Edy Pratowo membuka secara resmi Musyawarah Daerah (Musda) VIII AMPI Provinsi Kalimantan . . .

















